Selasa, 20 April 2010

Legenda Gunung Krakatau


Krakatau (813 mdpl), -english Krakatoa adalah sebuah kepulauan vulkanik yang masih aktif hingga saat ini. Sejarah letusan yang pernah terjadi pada tahun 1883 tercatat dalam Guinees Book of Record sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam sejarah, dan menurut catatan para peneliti, bersama ledakan Gunung Tambora (1815), Krakatau mencatatkan Nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Berada di Selat Sunda antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra, Krakatau sudah menjadi milik dunia karena setidaknya terdapat tiga judul filem yang diciptakan oleh para sineas dunia barat untuk menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi pada Gunung berapi itu.

Sekilas Sejarah Gunung Krakatau

Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Rakata yang terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.



Gunung Krakatau, Ledakannya 30.000 Kali Bom Atom di Hiroshima

Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana yang, karena letusan pada tanggal 26-27 Agustus 1883, kemudian sirna. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.




Seberapa keraskah bunyi letusan gunung api Krakatau, apakah dilaporkan sebagai bunyi terkeras yang pernah terdengar dalam sejarah manusia? Jika letusan yang terjadi di Los Angeles, California, setara kekuatannya dengan letusan Krakatau, maka suara letusan ini akan terdengar hingga ke New Haven, Connecticut.
Bencana alam lain mengakibatkan angka kematian lebih tinggi dibanding Krakatau, tetapi letusan pulau gunung api di Indonesia pada akhir bulan Agustus tahun 1883 ini merupakan sebuah ledakan persenjataan lengkap geofisika yang luar biasa berlebihan. Faktanya, kekuatan letusan krakatau yang mengagumkan telah melukiskan kekuatan alam yang sangat besar secara
dramatis, bila dibandingkan dengan kekuatan manusia yang sangat kecil. Bisa dipastikan bahwa secara teoritis kita bisa menghancurkan planet menggunakan senjata nuklir gabungan dari negara-negara yang memilikinya, tetapi kita tidak pernah bisa menciptakan sebuah senjata yang kekuatannya bahkan mendekati letusan gunung api Krakatau.
Krakatau terletak di Selat Sunda, di antara pulau Jawa dan Sumatera yang terletak di Indonesia. Sepanjang sejarah, pulau ini tidak dihuni, meski sering terdapat pengunjung ke pulau gunung api ini.
Letusan krakatau tercatat pertama kali terjadi pada tahun 1680. Gunung ini kemudian tetap hening selama lebih dari dua ratus tahun, hingga siklus letusan dimulai pada bulan Mei 1883. Penduduk pulau Jawa dan Sumatera yang tinggal tidak jauh dari sana tidaklah menganggap letusan ini membahayakan. Sejumlah orang bahkan mendatangi pulau ini dan mendaki hingga ke
puncak gunung api untuk memandang ke kawahnya yang cekung. Tak seorangpun yang dievakuasi, dan orang-orang terus menjalankan kehidupan mereka.

Musim panas berlalu...
Kemudian, Minggu tengah hari, 26 Agustus 1883, serangkaian ledakan sangat besar telah memancar dari Krakatau. Orang-orang yang berada di sekitarnya bisa mendengar letusan, dan abu serta batu apung mulai menghujani rumah-rumah dan kapal-kapal di selat Sunda.
Hal ini berlangsung selama dua puluh empat jam, hingga hari berikutnya, ketika empat letusan sangat besar terjadi, dan letusan terbesar terjadi pukul sepuluh pagi, dan letusan-letusan ini bisa dikatakan telah mengguncang dunia. Ledakan ini telah membangunkan orang-orang di Australia yang jaraknya lebih dari 2.500 Mil (lebih dari 4.000 km).
Gelombang guncangan Krakatau telah mengelilingi bumi sekitar tujuh kali, dengan kecepatan mendekati 700 Mil (1.125 km) per jam--tiga kali secara searah, dan empat kali dalam arah berlawanan.
Awan abu dari Krakatau naik setinggi 50 Mil (80km) ke udara, dan debu gunung api telah mengelilingi bumi berkali-kali, tumpukkan debu nyaris terdapat di mana-mana di planet ini. Debu tersebut begitu tebal, sehingga Selat Sunda mengalami kegelapan total selama dua hari penuh.
Krakatau juga mengakibatkan 17 gunung api yang lebih kecil lainnya meletus di pulau itu, dan gabungan panas dari keseluruhan ledakan ini mengejutkan, sebesar 60 derajat. Selain itu, selimut batu apung setebal 10 kaki (3m) telah menyelimuti perairan sejauh bermil-mil di sekitar Jawa dan Sumatera. Letusan ini juga mengakibatkan tsunami--sebuah gelombang raksasa--yang telah mendatangkan kerusakan terbesar, dan dialami hingga sejauh Tanjung Horn di Amerika Selatan.
Gelombang raksasa Krakatau setinggi 100-120 kaki (30-36 m) telah menelan nyaris 30 desa pesisir dan pelabuhan, juga telah menewaskan lebih dari 36.000 orang, entah karena tenggelam atau karena tertindih hingga tewas saat rumah-rumah mereka runtuh. Sebagian besar kematian disebabkan karena telah terbakar oleh lava atau gelombang yang mengejutkan. Tsunami
Krakatau adalah pembunuh utama--gelombang ini sangat besar sehingga dilaporkan dapat dirasakan hingga ke pantai barat Amerika Serikat.Ledakan ini telah menenggelamkan dataran pantai seluas 50 Mil (80km) persegi, begitu pula halnya dengan beberapa pulau yang lebih kecil di Selat Sunda.
Kapal meriam berbendera Belanda, Berow, di pelabuhan Sumatera di Teluk Betung, telah dihanyutkan oleh Tsunami Krakatau, terlempar ke udara, dan jatuh lebih dari 1 Mil di pedalaman, di sebuah hutan di Sumatera. Tak terhitung banyaknya kapal di perairan sekitar Indonesia yang tidak begitu beruntung; sebagian besar tenggelam dan tidak pernah muncul lagi.
Krakatau telah mengirim lebih dari delapan kilometer kubik debu ke atmosfer, dan pecahan batuan ini bertahan di sana selama dua tahun penuh. Materi ini telah membuat matahari tengah hari tampak berwarna biru di Amerika Selatan, dan matahari terbit tampak berwarna hijau di Hawaii selama berbulan-bulan setelah letusan.
Debu ini juga menciptakan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler di seluruh dunia selama berbulan-bulan setelah letusan. Beberapa di antaranya begitu dramatis sehingga mereka tampak bagaikan api yang sangat besar di kejauhan.
Dua bulan kemudian, pada bulan Oktober tahun1883, banyak orang di New Haven, Connecticut, telah memanggil pemadam kebakaran karena mengira bahwa nyala merah matahari terbenam adalah kebakaran yang sangat besar yang tak terkendali.
Matahari terbenam ini juga disaksikan di banyak tempat sepanjang pesisir timur Amerika Serikat.
Krakatau akhirnya tenggelam ke dalam laut, energinya telah terkuras, kekuatannya telah habis. Di tempatnya sekarang terdapat Anak Krakatau, sebuah pulau gunung berapi yang lebih kecil, yang terbentuk dalam letusan kecil pada tahun 1928, dan terus meletus secara berkala. Sangat kecil kemungkinannya Anak Krakatau dapat mencapai kekuatan bencana layaknya Krakatau. Sebuah letusan dengan kekuatan setara atau lebih besar tentu aja dimungkinkan di tempat lain di muka bumi, tetapi sampai saat ini, Krakatau telah memegang rekor sebagai letusan gunung berapi terbesar sepanjang masa.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar:

Poskan Komentar